Sabtu, 27 Februari 2010

BERKAT TERINDAH

Hari ini aku pulang dari ret – ret Hidup Baru Dalam Roh yang diadakan oleh salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Ret – ret kali ini sungguh sangat mengesankan. Senyum seakan tidak pernah bosan menghiasi wajahku, senandung – senandung rohani pun terdengar ringan terucap dari mulutku. Aku begitu merasa damai dan pulang tanpa beban, padahal saat ini keluargaku sedang dihimpit masalah yang cukup berat.
Begitu sampai di depan pintu rumah, suara ibu dan adikku telah terdengar menyambut kedatanganku. Akupun bergegas masuk, tak sabar untuk bercerita berkat apa saja yang Tuhan anugerahkan padaku dalam ret – ret yang aku ikuti. Aku mulai bercerita dengan begitu semangat dan disambut canda dan tawa dari ibu dan adikku.
Moment seperti ini adalah hal biasa yang kami lakukan bersama – sama setiap hari tanpa merasa kekurangan satu personil pun. Namun saat itu ada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang kurasa mencuri dengar apa yang kuceritakan, dia adalah ayahku. Benar perkiraanku, dari depan pintu kamarnya yang sengaja tidak dikunci oleh ibuku, aku mengintip ia sedang berusaha mendengarkan pembicaraan kami.
Ayahku terkena serangan stroke ketika aku duduk dibangku kelas tiga SMP, dan sejak SMA aku mulai tidak berbicara padanya, bahkan cenderung membencinya dan menganggapnya tidak ada. Sebenarnya aku sangat mencintai ayahku, namun karena kesalahan yang ia lakukan membuat aku merasa dikhianati dan sejak saat itu aku mulai membencinya.
Ketika aku mengintip apakah ia benar mencuri dengar, tak sengaja pandangan kami bertabrakan dan dari matanya aku melihat seorang pria yang sudah sangat renta yang sangat kesepian. Lalu karena terkejut, cepat – cepat ia palingkan wajahnya dari padaku dan pura – pura tertidur. Entah mengapa pandangannya saat itu membuat aku gundah. Aku merasa sangat gelisah. akupun akhirnya berjalan mondar – mandir melewati kamar ayahku dengan berbagai alasan, mulai dari mengambil minum ke dapur ataupun pura – pura mengembalikan piring kotor ke dapur, hal yang tidak biasa kulakukan sambil sesekali melirik ke arah kamar ayahku, berusaha mencari tahu apa yang dilakukannya.
Setelah tidak ada lagi alasan untuk melewati kamar ayahku, perasaan gundahku semakin menjadi, kali ini menjadi sangat gelisah dan entah apa yang membawaku, aku sudah berada di depan ayahku yang sedang terbaring. Sekejap aku memandang tubuhnya yang sudah tua. Ayahku tampak begitu kurus. Terlihat beberapa luka ditubuhnya karena selalu terbaring di tempat tidur, sungguh sudah lama aku tidak memperhatikan keadaannya.
“Papa, aku sayang papa. Aku sudah maafin papa, aku juga minta maaf, pa.” kataku lalu berbisik ditelinganya.
“Pa, maafin aku ya.” Bisikku lagi yang kemudian disusul oleh air mataku.
Lalu ayahku yang sudah tidak dapat bangun dan hanya sedikit bergerak menarik leherku kearahnya, dan dia mencium keningku tanpa berkata apapun. Akupun menangis tersedu dan memeluk tubuhnya yang renta itu. Malam itu pun aku tertidur dengan tenang dan merasa sangat bahagia.
Esoknya aku mengatakan pada ibuku bahwa aku akan membelikan ayahku kursi roda ketika gajian nanti dan setiap sore aku akan pulang cepat untuk membawanya berjalan – jalan. Setelah hari itu aku menjadi lebih sering menyapa ayahku ketika hendak berangkat ke kantor ataupun setelah pulang dari kantor. Hingga pada suatu malam beberapa hari dari kejadian tersebut, ketika aku menyapanya, ayahku mengangkat jempolnya kearahku, berusaha berkata padaku “HEBAT”. Aku hanya tertawa melihat ayahku melakukan itu.
Tiga hari kemudian, di pagi hari yang cerah ketika kami semua akan pergi melakukan aktifitas hari itu, ayahku mengeluarkan suara dengkuran yang sangat keras. Ibuku mengumpulkan kami untuk berdoa bersama setelah itu kamipun pergi. Namun hatiku merasa amat tidak tenang. Di dalam angkutan aku bertemu seorang bapak tua renta yang mirip sekali dengan ayahku. Bapak itu tampak sangat lusuh dengan pakainnya yang compang camping. Akupun tidak tega dan membayarkan ongkosnya sambil terus menangis dan mengatakan pada bapak itu untuk hati – hati, entah mengapa aku merasa seolah ia adalah ayahku. Setelah aku turun dari angkutan, kakakku menelpon dan mengatakan bahwa ayahku telah tiada. Dan akupun menangis sejadi – jadinya.
Banyak penyesalan pada ayahku. Aku belum sempat memberikan ayahku kursi roda dan mengajaknya berjalan – jalan setiap sore, aku belum bisa mengobati penyakitnya, namun satu yang kutahu pasti, Tuhan telah memberikan berkat yang terindah untukku, aku diberi berkat pengampunan. Aku diberi kesempatan untuk meminta maaf pada ayahku dan mengatakan padanya betapa aku sangat mencintainya. Tuhan pun tidak meninggalkanku begitu saja, Iapun memberikan kesempatan untukku mengetahui bahwa ayahku sudah memaafkanku terlebih dahulu, mencintai, dan bangga padaku, hingga aku tidak perlu hidup dalam rasa bersalah.
I Love U, Pa..... always

Tidak ada komentar:

Posting Komentar